Buku ‘Rumah Ini Punya Siapa?’ Berkisah soal Masyarakat Urban Jakarta dan Betawi

  • Whatsapp

Media Analis Indonesia, Jakarta – Adalah Fadjriah Nurdiarsih, seorang penulis asal Jakarta yang juga berprofesi sebagai editor, baru saja meluncurkan buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul “Rumah Ini Punya Siapa?”. Buku yang memuat 20 cerita pendek ini merupakan buku pertamanya yang sebagian besar berkisah soal masyarakat urban Jakarta dan Betawi.

Zen Hae, kritikus sastra, dalam acara peluncuran sekaligus bedah buku Rumah Ini Punya Siapa? yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta bekerja sama dengan Perkumpulan Betawi Kita dan Lembaga Kebudayaan Betawi hari ini, Jumat, 21 Januari 2021 mengatakan bahwa meskipun ada sejumlah pihak yang mencoba menarik-narik atau menggolongkan Fadjriah Nurdiarsih sebagai “penulis Betawi”, pada dasarnya, dia menulis sastra Indonesia, bukan sastra Betawi.

Read More

“Oleh karena itu, Fadjriah mestinya digolongkan sebagai ‘penulis Indonesia’, bukan ‘penulis Betawi’. Betawi dalam hal ini hanyalah menjadi asal-usul etnis—yang tidak pernah ia meminta untuk dilahirkan di situ dan tiada pula niat untuk keluar dari terungku etnisitas itu,” kata Zen Hae.

Zen Hae menyoroti cerpen-cerpen Fadjriah yang dianggapnya dikuasai warna murung kekalahan manusia dalam memperjuangkan hidup dan gagal menjadi yang terbaik. Cerita Fadjriah merupakan representasi dan pencitraan kembali tentang orang Betawi yang tertindas.

Selain itu, menurut Zen Hae, cerpen-cerpen Fadjriah juga masih dikuasai beban klise dan stereotipe yang mungkin didasari keinginannya untuk merawat hubungan mesra dengan pembaca.

“Fadjriah berbahaya karena terlalu banyak bermain di wilayah surealisme. Dia juga pengarang perempuan yang banyak menyuarakan penderitaan serta membiarkan kehancuran sebagai bagian dari cerita itu sendiri. Dia tidak berusaha untuk berkhotbah atau memberi nasihat. Dia tahu bagaimana cara mengakhiri cerita dan itulah sebabnya dia telah berjalan pada rel yang benar,” sambung Zen Hae.

Di sisi lain, Yahya Andi Saputra dari Lembaga Kebudayaan Betawi, menyambut baik kehadiran Fadjriah sebagai pengarang perempuan beretnis Betawi. Yahya mengatakan,” Sangat sulit mendapatkan penulis perempuan, setelah sebelumnya hanya ada N. Susy Aminah Aziz, Tuty Alawiyah, dan Jaronah Abdullah. Itu pun mereka adalah penyair,” terangnya.

Kehadiran Fadjriah dianggapnya seperti ketuban yang tengah pecah dari rahim perempuan yang hendak melahirkan.

Fadjriah sendiri mengakui bahwa ia hanya mencoba menuliskan apa yang ia tahu dan paham, serta yang dekat dengannya.

Ia mengaku tak masalah disebut sastrawan Betawi, meski lebih suka disebut penulis. “Saya menulis dari hal-hal yang dekat dengan saya, tapi tidak hanya itu. Kadang saya juga terpengaruh dengan buku yang saya baca. Sebab, membaca adalah sebagian besar kerja menulis.

Sebagai editor, saya juga seringkali merasa ingin mengedit cerita-cerita saya. Ini penyakit,” imbuhnya.

Turut hadir dalam acara ini Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Bapak Wahyu Haryadi yang dalam sambutannya mengatakan, kehadiran sastra menempati posisi penting dalam pemajuan budaya dan pembentukan karakter bangsa.

“Hal itu pula yang mendorong perpustakaan menjadi suatu wahana inklusif yang bisa memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Sudah selayaknya, perpustakaan daerah terutama di DKI Jakarta, bersikap proaktif menjadi media penghubung antara sumber informasi dengan para penggunanya, Platform Mimbar Sastra yang merupakan Kegiatan Strategis Daerah (KSD), bisa dimanfaatkan untuk lebih membumikan karya sastra dan merupakan upaya membuka kemungkinan agar sastra bertemu publik yang lebih luas.

Utamanya generasi muda seperti pelajar dan mahasiswa bisa semakin akrab dengan sastra,” ujarnya.

Sementara itu H. Beky Mardani, selaku Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), dalam sambutannya mengatakan LKB mendukung penuh terlaksananya kegiatan peluncuran buku Rumah Ini Punya Siapa? karena sangat bermanfaat dalam membumikan kisah-kisah di kampung-kampung Betawi pada saat itu, yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

“Cerita-cerita Fadjriah membawa saya ke masa lalu dan saya seperti terlempar ke lorong waktu saat membacanya. Ceritanya aktual, sederhana, dan memuat problem keseharian yang ternyata berulang dari waktu ke waktu,” ungkap Beky.

Dalam acara peluncuran buku ini, PT Jakarta Propertindo menyumbangkan 50 eksemplar buku untuk disumbangkan kepada perpustakaan daerah, para pegiat literasi, dan Pustaka Betawi. M Taufiqurahman, Direktur Operasi PT Jakarta Propertindo (Perseroda), menyatakan dukungan ini merupakan bukti komitmen Jakpro untuk menjadikan Betawi sebagai rumah kita di Ibu Kota.

“Ini bukan kali terakhir Jakpro mendukung seniman dan budayawan Betawi untuk berkarya, apalagi di tengah masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Senada dengan yang lainnya, Ketua Perkumpulan Betawi Kita,Roni Adi yang juga Ketua Panitia Kegiatan Mimbar Sastra kali ini,turut memberikan komentar dan sambutannya.

“Perkumpulan Betawi Kita sangat mengapresiasi segala upaya untuk mendorong regenerasi penulis sastra Betawi yang memang dirasakan mandeg sejak sepuluh tahun terakhir ini.

Dan berharap semoga dengan diadakannya kegiatan Mimbar Sastra ini dapat mendorong masyarakat luas agar lebih mengapresiasi karya-karya sastra Betawi maupun nasional serta menumbuhkan lagi minat baca dan menulis yang mulai hilang tergerus perkembangan zaman,” tukas Roni .

Acara yang diikuti oleh 370-an peserta dengan berbagai macam latar belakang. Mulai dari mahasiswa, guru-guru, kepala sekolah, pegiat literasi, peminat kebudayaan Betawi, hingga aktivis Betawi ini berlangsung melalui Zoom dan live streaming YouTube Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta. (*/hel)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *