Nasabah Sakit dan Lansia Korban Kasus Gagal Bayar KSP Indosurya Menangis Kecewa

  • Whatsapp

Media Analis Indonesia, Jakarta – Kasus gagal bayar yang dialami nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta menyisakan penderitaan dan kepedihan tersendiri bagi para korban. Bagaimana tidak, di saat mereka membutuhkan uang tersebut untuk biaya berobat, pihak Indosurya tak mampu mengembalikan uang para nasabah seutuhnya.

Seperti yang dialami Ang Hoei Lan, salah satu nasabah lansia KSP Indosurya yang menceritakan kesedihannya pasca putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Read More

“Saya adalah salah satu korban Indosurya, dalam keputusan PKPU ada ditulis bahwa untuk kaum lansia dan orang sakit terdapat prioritas. Waktu itu Indosurya buka posko untuk orang sakit dan lansia, lalu saya masukin tanggal 20 Juli 2020 dan baru dibalas pada 19 Desember lalu saya disuruh datang ke Graha Indosurya. Di sana saya ketemu dengan Ibu Charly Crenna, waktu itu saya lihat dia yang menerbitkan deposito saya, semuanya ditandatangani oleh dia,” ujar Ang Hoei Lan yang didampingi Kuasa hukum Aliansi Korban Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta Otto Hasibuan di Jakarta, Kamis (25/2/2021).

Ang Hoei Lan menuturkan, dirinya sempat ditawarkan pihak Indosurya sejumlah uang yang nominalnya sangat kecil dibandingkan jumlah uang yang ia simpan di KSP Indosurya.

“Waktu itu dia menawarkan saya, akan memberikan saya sejumlah uang yang menurut saya jumlahnya sangat kecil dibandingkan jumlah uang yang saya taruh di Indosurya. Bayangkan hanya 1,8 persen, jadi saya menolak. Karena saya tau pada saat saya menerima itu uang, bilyet asli saya pasti akan ditarik. Saya tidak mau terjebak” ungkapnya.

Masih kata Ang Hoei Lan, sampai saat ini dirinya masih berupaya sekuat tenaga agar uangnya bisa kembali dengan utuh untuk biaya pengobatan suaminya.

“Saya masih terus aktif menghubungi Pak Rangga dan Pak Henry Surya. Saya kasih liat foto suami saya yang lagi sakit keras. Jadi saya waktu di sana sangat kesal, karena dikasih uang dengan jumlah yang sangat sedikit. Saya kasih semua bukti bukti medis suami yang sakit sudah 8 tahun, perlu pengobatan dengan uang yang banyak. Saya nggak bohong, uang saya semuanya di sana, terakhir uang 50 juta saya masukin, tapi sampai saat ini saya nggak direspon sama sekali sama Indosurya. Saya kecewa,” ujarnya dengan nada sedih sambil menangis.

Diakui Ang Hoei Lan, jumlah uang yang telah ia setorkan ke Indosurya terbilang banyak.

“Uang saya 1,3 miliar lebih. Masa yang mau dikasih ke saya cuma 25 juta, dibilang kesanggupan koperasi hanya segitu. Saya marah dan kecewa, saya jerih payah kumpulin uang, ada uang hasil pensiunan suami saya mengajar, uang anak saya juga semua disini, sekarang nggak bisa balik, coba bayangkan. Saya bingung entah harus ke mana minta tolong. Di sini saya memohon kepada bapak Presiden, bapak Kapolri, tolong bantu pak, korban nasabah banyak yang menderita karena Indosurya,” katanya dengan iba.

Kekecewaan juga diungkapkan Erni. Mantan marketing Indosurya yang juga nasabah Indosurya ini mengaku dirinya menanggung beban moral akibat kasus gagal bayar tersebut.

“Saya sampai sekarang beban moral, masalahnya itu uang keluarga, uang nasabah juga, kebetulan saya mantan marketing,” ucapnya.

Erni berharap uang para nasabah bisa dikembalikan.

“Dengan syarat harus menukar bilyet asli, tetapi kan bilyet itu satu-satunya bukti kita berdasarkan hukum yang sudah disahkan PKPU. Kalau harus ditukarkan, lalu pegangan kita apa. Dari September lalu kita sudah dapat undangan, tapi sampai sekarang uang itu belum pernah dikreditkan serupiah pun ke rekening yang bersangkutan. Jadi saya mohon kepada pihak Indosurya untuk diselesaikan dengan baik dan serius,” harapnya.

Terkait keluhan dan kekecewaan kliennya, Kuasa hukum Aliansi Korban Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta Otto Hasibuan mengatakan kasus gagal bayar ini harus bisa diselesaikan dengan seadil-adilnya.

“Jadi seperti yang sudah diceritakan tadi, apa yang terjadi sekarang ini merupakan taruhan besar buat Polri. karena kasus ini sudah diketahui di seluruh Indonesia, mungkin dunia juga sudah tahu ada persoalan hukum yang serius dalam kasus Indosurya ini.

jadi ini merupakan salah satu barometer pekerjaan besar bagi kapolri yang baru,” terang Otto Hasibuan.

Otto menilai, kalau ini bisa diselesaikan dengan tuntas mungkin bisa terobati dan terbayar rasa keadilan masyarakat.

“Karena jumlah korbannya ribuan orang, jumlah uangnya belasan triliunan. Hanya sebuah koperasi bisa merugikan banyak orang seperti ini. Harapan saya, mudah-mudahan hal ini didengar oleh Presiden dan Kapolri supaya semuanya bisa mendapatkan keadilan,” tutupnya. (*/sml)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *