Pemprov NTB dan Pemkot Mataram Bersinergi untuk Kurangi Resiko Dampak Kerusakan Lingkungan

  • Whatsapp

Media Analis Indonesia, Mataram – Mengurangi resiko dampak dari kerusakan lingkungan, Pemprov NTB – Pemkot Mataram bersinergi membangun komunikasi. Sinergitas tersebut sebagai bentuk penyeragaman tata kelola sampah secara terpadu.

Ada berbagai metode pengolahan sampah agar menjadi nilai ekonomis. Sehingga tidak mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai lokasi tujuan pembuangan limbah dari berbagai jenis itu.

Read More

Dalam sebuah diskusi dengan pemerintah kota Mataram terkait tata kelola sampah bertempat di Pendopo Wagub NTB, DR. Hj. Sitti Rohmi Djalillah mengatakan, mengurangi sampah dari rumah tangga dengan memilahnya untuk dimanfaatkan, dinilai efektif menjadi solusi masalah sampah daripada terus mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

“Kalau tidak begitu kita akan tetap berkutat pada tumpukan sampah di TPA dan solusinya mencari lahan baru. Kalau ada masalah di TPA maka tumpukan sampah di TPS sementara juga akan menggunung belum lagi yang liar. Penekanannya, pengelolaan di hulu sebagai paradigma baru di masyarakat,” ujar Wagub Sitti Rohmi Djalillah, Senin (22/2/2021).

Wakil Gubernur NTB, DR.Hj. Sitti Rohmi Djalillah (kanan) dan Walikota Mataram H. Mohan Roliskana

Dia mengatakan, produksi sampah akan terus naik, sementara jika hanya menangani sampah, masalah teknis seperti infrastruktur, anggaran dan sumber daya manusia tetap menjadi kendala, karena akan selalu tak sebanding.

Karenanya, pemprov mengajak Walikota Mataram, H Mohan Roliskana bersama-sama mengkampanyekan pengurangan sampah dari rumah tangga.

Menurut Wagub, keterlibatan lingkungan terkecil kelurahan sampai RT/RW harus kian masif didorong oleh Pemkot Mataram yang notabene mengelola kota sebagai etalase dan wajah daerah.

Dari sisi penanganan, pemprov sejak 2019 telah mulai melakukan giat pengurangan sampah selain penanganan hilir di TPA mulai dari program BSF (Black Soldier Fly) untuk sampah organik di Lingsar, RDF atau pelet dari sampah untuk energi di TPA Kebon Kongok. Pabrik bata plastik dan batako serta aspek aturan seperti Jakstrada dan Perda serta teknologi informasi penanganan sampah hingga kabupaten/kota dengan aplikasi Lestari.

Wagub juga menjelaskan jika pengelolaan di hulu berhasil maka dapat pula menekan anggaran pengangkutan dan masyarakat dapat berhitung nilai ekonomis sampah. Itu sebabnya, revitalisasi peran lingkungan dalam pengelolaan hulu sampah sangat strategis.

Wagub juga mengapresiasi pengelolaan sampah Pemkot Mataram yang sudah mencapai 77 persen dengan program bagus seperti lisan dan pengelolaan sampah berbasis komunitas seperti di Mataram Barat dan Sandubaya yang dapat direplika di lingkungan lain. Namun pengurangan sampah yang baru 3,32 persen harus disikapi dengan strategi baru.

“Yang penting sepaham dulu dan menjembatani niatan ini ke lingkungan-lingkungan di kota Mataram agar sampah dikelola mulai dari hulu,” tegas Wagub.

Secara rinci, potensi pengurangan sampah itu, dari RDF atau pelet sampah pengganti batu bara membutuhkan bahan baku sampah hingga 1.085 ton per hari untuk produksi 147 ton RDF per hari melalui industrialisasi sampah TPA Kebon Kongok yang dimanfaatkan oleh PLTU Jeranjang sampai Taliwang dan bahan bakar smelter.

BSF dengan potensi sampah organik 3 ton perhari juga pabrik bata plastik dan batako dengan potensi pasar yang besar hingga mancanegara.

Sementara itu, Walikota Mataram, Mohan Roliskana menyambut perhatian Pemprov soal tata kelola sampah yang juga menjadi prioritas dan isu utama pembangunan Pemkot Mataram yang segera akan dikerjakan masif.

Sebagai langkah awal, Pemkot sudah menyiapkan skenario kebijakan fiskal untuk penanganan sampah. Salah satunya dengan memperbesar anggaran pengangkutan sebesar 37 juta pertahun yang hanya dapat membiayai satu kali angkutan sampah ke TPA.

Semangat kolektif dalam penanganan sampah ini juga membutuhkan kontribusi anggota DPRD kota dalam distribusi anggaran Pokir. Begitupula dengan dana kelurahan sebesar Rp 1,5 sampai Rp. 2 miliar pertahun didorong untuk alokasi pengurangan sampah.

Hal lain adalah koordinasi TPA regional yang sekarang masih menggunakan sistem control landfill agar dapat meminimalkan gangguan yang menyebabkan terhambatnya pengangkutan sampah. Hal konkrit lainnya adalah memastikan replikasi program pengelolaan hulu dikerjakan pula ditempat lain di kota Mataram.

“Sebagai wajah daerah sudah sepatutnya kota ini bersih dan nyaman bagi penghuninya maupun yang datang berkunjung,” ujar Mohan.
( Yyt)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *