Mengungkap Akar dan Motif Perilaku Korup

Dede Farhan Aulawi, Pembina Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi (GNPK) RI 

Media Analis Indonesia, Jakarta – Pembahasan korupsi yang tidak pernah selesai dari masa ke masa menjadi sangat menarik sebagai objek kajian untuk mencari cara yang bisa dilakukan guna melakukan pencegahan. Pemberantasan korupsi dari aspek penegakan hukum selama ini dinilai belum mampu menghasilkan efek jera. Hal ini terbukti dengan penangkan demi penagkapan yang terus berlanjut dari waktu ke waktu, sehingga bisa dipahami jika akhirnya lahir dorongan yang kuat untuk menuntut pelaku tindak pidana korupsi dengan hukuman mati. Hal tersebut tentu menunjukan sebuah fenomena kejengkelan rakyat yang luar biasa terhadap para pengkhianat bangsa yang telah dipercaya untuk menduduki sebuah jabatan tertentu.

Seyogianya jabatan yang diemban merupakan amanah dari Tuhan melalui tangan rakyat, tetapi fakta menunjukan lain karena betapa banyaknya orang yang tak mampu menjaga amanah tersebut. Kewenangan yang menjadi basis amanah dari rakyat ternyata malah dijadikan peluang transaksional untuk memperjualbelikan amanah – amanah lain yang lebih kecil. Lihat saja bagaimana oknum kepala daerah yang memperjualbelikan jabatan di bawahnya. Ternyata kinerja dan dedikasi tidaklah cukup untuk mengelola sebuah jabatan, ada prasyarat lain yang tidak terlihat tetapi lebih menentukan.

Read More

Rakyat saat ini sudah benar – benar muak dengan perilaku koruptif dari para pengemban amanah. Dari mulai cara sembunyi – sembunyi sampai cara yang terang benderang seringkali dipertontonkan tanpa rasa malu sedikitpun. Bahkan mereka yang tertangkap tangan (OTT) tidak segan – segan melambaikan tangan dan senyum sapa yang sumringah di depan kamera para awak media. Apakah mereka yang sedang sakit, atau nilai – nilai kemanusiaan itu memang sudah luntur tergerus ambisi dan mental keserakahan yang luar biasa.

Coba perhatikan para koruptor yang sudah tertangkap, baik yang sedang menjalani proses persidangan ataupun yang sudah diputus dan memiliki kekuatan hukum yang tetap. Baik terduga, terdakwa maupun terpidana, mereka bukanlah orang – orang yang kelaparan dan terlilit hutang sehingga ‘terpaksa’ melakukan tindakan tercela. Mereka adalah kaum berada bahkan tidak sedikit yang dianggap kaum ‘terhormat’ yang sejatinya sudah kaya raya. Tetapi karena tergoda oleh iblis yang bersemayam dalam jiwa keserakahannya, akhirnya menggadaikan harkat martabat dan kehormatannya menjadi tindakan nista yang sangat tercela.

Mungkin karena sikap hedonisme dan salah dalam menafsirkan arti sebuah kesuksesan dalam hidup. Selama ini publik banyak yang mempersepsikan kesuksesan dengan hidup serba ada bergeliman harta. Itulah sebabnya banyak orang yang memberi penghormatan kepada orang yang jor – jor-an bisa ‘memberikan atau mentraktir ‘jamuan makan’ serta berkendaraan lux yang membuat decak kagum para penikmatnya. Rasanya masih sulit menikmati kehidupan tanpa pujian dan decak kagum penghormatan yang bersifat materialistik. Inilah menjadi PR besar secara kolektif agar terbiasa membangun gaya hidup sederhana sesuai dengan kebutuhan, bukan atas dasar keinginan. Di tambah lagi sikap mental dan keimanan secara spiritual terhadap keyakinan adanya Tuhan yang akan memintai pertanggungjawaban setiap amal perbuatan manusia di hari pengadilan yang hakiki. Dimana tidak ada lagi pembela untuk membenarkan amal perbuatannya, kecuali amal sholih yang pernah dilakukannya sendiri, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak – anak sholih yang senantiasa mendo’akannya saat sudah tiada. Jadi inilah akar mendasar perilaku korup karena hilangnya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat amal perbuatan setiap hamba-Nya.

Kemudian terkait dengan motif perilaku korup, kita bisa merujuk pada teori GONE (GONE theory ) yang disampaikan oleh Jack Bologne dalam bukunya The Accountant Handbook o f Fraud and Commercial Crime. Di dalam buku tersebut ia menjelaskan bahwa faktor-fakor yang menyebabkan terjadinya kecurangan meliputi Greeds (Keserakahan), Opportunities (Kesempatan), Needs (Kebutuhan) dan Exposures (Pengungkapan). Faktor-faktor Greeds dan Needs berkaitan dengan individu pelaku kecurangan (actor),sedangkan faktor-faktor Opportunities dan Exposures berhubungan dengan korban perbuatan kecurangan (victim).

Keserakahan (Greeds) berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada dalam diri setiap orang. Motif awalnya bisa lahir dari diri sendiri karena adanya suatu kebutuhan atau keinginan. Lamu lama kelamaan menikmati apa yang sudah diperoleh sebelumnya dan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan akhirnya lahirlah sebuah ‘keharusan’, sehingga tidak segan – segan untuk ‘mempersulit’ orang untuk memperoleh sebuah ‘imbalan’. Atau kalaupun tidak lahir dari diri sendiri, bisa juga karena ada godaan, hasutan atau bisikan kiri kanan yang menjanjikan sebuah ‘kekayaan’, akhirnya terjerumuskan pada lobang kebiasaan sampai menukik tajam ke dasar KESERAKAHAN. Untuk itulah diperlukan adanya landasan iman agar mampu mengendalikan Keserakahan ini.

Sementara ‘Kesempatan (Opportunities)’ berkaitan dengan keadaan organisasi/instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa sehingga terbuka kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan kecurangan. Amanah berupa kewenangan yang sejatinya dijaga dengan penuh kehormatan, malah diinjak – injak dan dinistakan menjaga harga yang murah. Baju dan atribut lain yang harusnya dijaga malah dijadikan ajang transaksi perilaku yang justeru merendahkan martabat dan kehormatannya.

Kebutuhan (Needs) berkaitan dengan faktor-faktor yang dibutuhkan oleh setiap individu untuk menunjang hidupnya yang wajar. Persoalan kemudian kehidupan yang wajar ini ternyata dipengaruhi juga oleh persepsi pribadi dan persepsi lingkungan dalam memandang gaya hidup dan strata sosial kemasyarakatan. Di sinilah perlunya melakukan redefinisi atau ‘sukses’ dalam kehidupan agar tidak selalu diukur dan ditakar dalam satuan materi.

Pengungkapan (Exposures) berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oieh pelaku kecurangan apabila diketahui telah melakukan kecurangan. Persoalan kemudian kita tidak bisa menutup mata bahwa masih adanya oknum yang senang bermain mata dengan para pelaku korupsi dan ikut menikmati sebagian hasil korupsinya. Disinilah integritas individu menjadi sangat penting, terutama bagi orang atau pengemban fungsi penegakan hukum, karena godaannya pasti besar sekali. Palu godam yang dipegang oleh aparat penegak hukum bisa menentukan seseorang dipenjara ataupun tidak. Itulah sebabnya aneka rayuan dan godaan pasti banyak yang hinggap menghampirinya dengan berbagai cara dan jalan untuk memuluskan tujuan. Dengan dimikian wajar jika setiap ketukan palu godam tersebut bisa menentukan dirinya di akhirat kelak, apakah sebagai penghuni surga atau neraka.

Kita semua tentu berharap bahwa korupsi di negeri tercinta ini bisa dihilangkan, atau setidaknya diminimalisir sekecil mungkin agar tidak merugikan rakyat secara keseluruhan. Semoga Indonesia menjadi negara yang maju, unggul dan terhormat. Penuh wibawa dan martabat karena dipenuhi pemimpin yang berintegritas dan pandai dalam menjaga amanah. Aamiin YRA

Oleh: Dede Farhan Aulawi, Pembina Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi (GNPK) RI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *